Rabu, 22 Juni 2011

AKHLAK TRHDP GRU

A. Akhlak Terhadap Guru
Sesungguhnya seorang anak sangat mencintai kepada ayah dan ibu, serta menghormati dan memuliakan lantaran keduanya telah memelihara jisim atau jasad tubuhnya, melayani kebutuhan lahiriyah. Sedangkan guru adalah orang yang memelihara, menjaga rohani dan akal pikiran. Guru adalah orang yang menunjukkan ke jalan yang mengantar ke suatu kebajikan, kebahagian dan keberhasilan. Oleh karena itu, wajib bagi pelajar menjaga adab kesopanan terhadap guru.
Adapun adab kesopanan terhadap guru, hendaknya pelajar selalu cinta, patuh, ta’at dan menghormatinya. Sebab gurulah yang telah mendidik, membaca, menulis, berhitung, dan lain sebagainya. Di samping itu, guru telah berhasil membimbing kita, menunjukkan ke suatu perbuatan yang terpuji, lewat ketekunan dan kesungguhan dalam memberiakan pelajaran pada murid-muridnya.
Nilai ilmu dan pendidikan yang diberikan oleh guru, tidak dapat diukur dengan nilai uang atau materi dan tak dapat disamakan dengan materi atau dinilai dengan materi. Sebab ilmu apabila dimanfa’atkan akan mendatangkan materi dan kebahagiaan hidup, social status, kedudukan dalam masyarakat, penghormatan dan penghargaan orang kepadanya karena mempunyai kemampuan yang didasarkan atas didikan dan ilmunya. Apabila dengan ilmu agama yang akan membawa kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Oleh karena itu, tidaklah tepat apabila ada seorang murid yang menganggap sudah cukup berterimakasih kepada gurunya dengan membayar uang sekolah atau memberikan honorarium sekedar uang jalan, atau mendidik sikap tata cara hidup sopan santun dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Bahkan dengan anggapan itu juga menganggap kalau sudah tidak belajar lagi bukan gurunya. Sehingga sering didengar perkataan: “Dia bekas guru saya”. Perkataan bekas berarti waktu kini sudah tidak lagi atau bukan lagi guru. Pikiran ini menganggap seseorang menjadi guru apabila mengajar. Kalau sudah tidak mengajar bukan lagi gurunya, walaupun ilmu yang yang didapat dari “yang disebut bekas gurunya” itu dipakai terus. Dan dia mendapat kedudukan atau hidup seperti itu bermodalkan ilmu dari guru yang tidak aka nada habis-habisnya. Bahkan ironinya selain menganggap “bekas guru” ada yang lebih parah lagi, si “bekas” murid itu apabila bertemu tiddak menunjukkan bahwa dia pernah diajar oleh “bekas” gurunya itu. Dan bahkan meremehkan “bekas” gurunya itu. Kendatipun ia hidup dengan ilmu dari yang disebut ”bekas” gurunya itu.
Dari segi penggunaan ilmu kuranglah tepat apabila dikatakan “bekas” guru. Sebab hubungan guru dengan murid itu terjadi bukan hubungan kerja yang bersifat material. Seperti bekas majikan atau bekas buruh.
Guru telah mendidik tentang masalah ethika, akhlak budi pekerti yang mulia lagi terhormat, sehingga mengantar ke suatu martabat yang tinggi. Di samping itu guru telah memberikan keterangan dan menjelaskan tentang berbagai permasalahan yang mendatangkan kemanfa’atan. Di samping itu permasalahan yang akan merugikan, mendatangkan madlarat diperjelaskan pula agar dapat dihindari oleh setiap anak didik.
Adab kesopanan harus dipelihara guna mendapatkan suatu martabat yang tinggi. Hanya dengan ilmu pengetahuan yang banyak dan akhlak yang mulia sajalah seseorang akan mencapai sukses ataupun tingkatan yang tinggi, yang menyebabkan kesempurnaan dalam pergaulan, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Seperti dalam syair yang artinya tidak akan sampai maksud seseorang kecuali ia mau menghormat. Sebaliknya seseorang akan jatuh dari kedudukannya akibat ia tidak mau menghormati dan meremehkan.
B. Prinsip-prinsip Akhlak dalam Lingkungan Perguruan
Sebagaimana dimaklumi bahwa akhlak terdapat dalam setiap lingkungan pergaulan hidup manusia, maka demikianlah dalam lingkungan perguruan, pendidikan dan pengajaran di mana terdapat hubungan antara guru dan murid terdapat pula prinsip-prinsip kesopanan yang perlu dilaksanakan oleh semua pihak.
1. Adab guru dalam mengajar
Dalam suasana pengajaran berlangsung, guru berhadapan dengan murid. Dalam hubungan ini guru harus berpegang kepada kode etik yang sesuai dengan fungsinya, yaitu:
a. Niat ikhlas
Hendaknya guru mengajarkan ilmu yang dimiliknya dengan penuh keikhlasan hati karena mengharapkan keridhoan Allah.
b. Kasih sayang
Hendaklah seorang guru merasa dirisebagai orang tua yang memandang murid-muridnya seolah-olah sebagai anaknya sendiri. Demikian juga guru menyanyangi muridnya dan membimbingnya seperti anaknya sendiri seperti hadis, “Sesungguhnya saya bagimu adalah seperti orang tua kepada anaknya”
Dan hadis lain “Siapa yang tidak mempunyai kasih sayang kepada manusia, niscaya tidak pula dikasihi oleh Allah”. (H.R. Bukhori dan Muslim)
c. Hikmah kebijaksanaan
Yang berarti guru harus berlaku bijaksana dalam mengajar hendaknya memilih suatu sistem dan metode dedaktik yang tepat, seperti firman Allah Q.S 16 An-Nahl: 125
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ {125}
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.


Hal-hal yang halus dari pekerjaan mengajar adalah mencegah murid dari akhlaq yang buruk dengan jalan sindiran, sedapat mungkin tidak dengan terang-terangan, dengan jalan kasih sayang, tidak dengan jalan membuka rahasia. Karena, terang-terangan itu merusak tirai kewibawaan dan menyebabkan berani menyerang karena perbedaan pendapat.
d. Memilih waktu yang tepat
Untuk menjaga kebosanan murid haruslah guru mengadakan jadwal pelajaran.
e. Memberi teladan
Guru tidak hanya mengajar dalam bentuk lisan, namun yang terlebih penting ialah guru harus memberikan contoh perbuatan atau teladan yang baik yang mudah ditiru oleh murid-muridnya. Allah berfirman dalam QS. 61 As-shaff : 2-3
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَالاَتَفْعَلُونَ {2} كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَالاَتَفْعَلُونَ {3}
2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? 3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
2. Adab murid dalam belajar
Dalam menghadapi seorang guru, maka muridpun harus melaksanakan prinsip-prinsip adab yang baik sesuai dengan kekudukannya selaku orang yang membutuhksn hikmah pengetahuan. Adapun adab tersebut meliputi;
a) Niat
Hendaklah seorang murid memasang niat yang suci dalam hatinya. Niat yang baik itu menjernihkan hati sehingga mudah menangkap pelajaran. Niat yang penuh keikhlasan menyingkirkan setan dan mengundang nur Ilahi. Imam Syafi’I pernah melaporkan kepada imam Waki’ (gurunya) mengapa hafalannya menjadi buruk. Maka imam Waki’ menganjurkan supaya meninggalkan perbuatan yang cenderung menjadi dosa. Ilmu itu sesungguhnya cahaya Allah dan tidak akan diberikan kepada orang yang durhaka.
b) Azam
Seorangg murid haruslah memiliki kemauan yang keras untuk memahami suatu ilmu. Allah berfirman dalam QS 46 al-Ahqaf; 35
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَتَسْتَعْجِل لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَايُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلاَّسَاعَةً مِّن نَّهَارٍ بَلاَغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلاَّ الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ {35}
35. Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.
c) Tekun
Memperhatikan pelajaran dengan serius.
d) Patuh dan hormat kepada guru
Sabda Rasulullah, “Muliakanlah orang yang kamu belajar dari padanya”. (H.R. Abul Hasan Al-Mawardi).
C. Akhlaq pelajar terhadap guru
1. Pelajar haruslah dapat menggunakan akhlaq yang mulia, menghindari segala akhlaq yang tercela. Harus mampu menyulam kekurangan dan mempertahankan segala kebajikan. Hendaknya motivasi dalam menuntut ilmu adalah karena tahu bahwa sesungguhnya Allah memfardhukannya beribadah, padahal ibadah itu sendiri tidak akan mungkin bias dilaksanakan tanpa adanya ilmu pengetahuan. Karenanya pelajar menyadari bahwa dirinya wajib memiliki ilmu pengetahuan, demi sempurnanya pengabdian kepada Allah. Tahu pula bahwa sebagai mukmin tidak patut menjadi manusia yang bodoh, tak berilmu pengetahuan. Karenanya, pelajar harus sadar dan berniat dengan ikhlas didalam belajarnya semata-mata berniat menghilangkan atau memberantas kebodohan yang ada pada dirinya, demi melaksanakan perintah Allah, bukan sekedar menuruti kehendak dirinya saja, atau karena yang selain Allah. Itulah maksud dan tujuan menuntut ilmu pengetahuan.
2. Pelajar melakukan segala usaha dan upaya dengan penuh keikhlasan, tidak pernah merasa dirinya lebih atau telah mencapai keutamaan. Tetapi justru malah menyadari bahwa yang memiliki keutamaan hanyalah Allah semata. Sebab Allah yang memberi pertolongan dan petunjuk untuk menuntut ilmu pengetahuan sebagai sarana beribadah, baik untuk melakukan segala perintah maupun untuk menjauhi segala larangan. Demikianlah seharusnya memiliki pekerti di tengah-tengah masyarakat, sehingga benar-benar dapat menjadi cermin teladan di kalangan mereka.
3. Pelajar tidak akan mendapat kesuksesan ilmu pengetahuan dan tidak akan mendapat kemanfa’atan dari pengetahuan yang di milikinya, selain selain jika mau mengagungkan ilmu pengetahuan itu sendiri, menghormati ahli ilmu dan mengagungkan guru. Seseorang akan mencapai sesuatu kesuksesan kalau dia sendiri mau mengagungkan sesuatu yang dicarinya. Demikian pula kegagalan seseorang lantaran tidak mau mengagungkan sesuatu yang sedang di carinya.
Karena hal di atas, pelajar haruslah menghormati ilmuwan, dan di kala berjalan menghadapinyapun harus memiliki kesopanan. Seharusnya dia berjalan dengan tenang, sabar, berwibawa dan penuh dengan tata krama sopan santun.
Termasuk pula menghormati ilmuwan atau guru, yaitu tidak berjalan di depannya, duduk di tempat duduknya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan dirinya, berbicara yang beraneka rragam di hadapannya, dan menanyakan hal-hal yang membosankan. Pelajar hendaklah menghemat waktu, jangan sampai mengetuk pintu sang guru, cukuplah menanti di luar, sehingga ilmuwan tersebut keluar dari rumahnya. Maksudnya jangan tergesa-gesa untuk segera bertemu, sehingga memilih waktu yang tepat, yang tidak mengganggu semuanya. Intinya, pelajar harus bias melakukan sesuatu yang membuat rela ilmuwan yang menjadi gurunya, menjunjung tinggi perintahnya, selama bukan perintah maksiat.
4. Pelajar hendaknya selalu meminta perlindungan kepada Allah dan segala perbuatan yang buruk dari segala laku telinga, mata, lisan, jiwanya dan segala godaan setan. Di samping itu harus hormat dan memegang teguh terhadap perintah guru, ilmuwan yang mendidiknya.
Ali bin Abi Thalib, sewaktu sebagai pelajar, pernah menegaskan:
“Aku rela menjadi hamba sahaya orang yang telah mendidikku, sekalipun hanya satu huruf. Terserah kepadanya, aku mau dijual, di merdekakan ataupun tetap di jadikan hamba sahayanya”.
Demikian semboyan Ali bin Abi Thalib di dalam menghormati dan memuliakan ilmuwan, lebih-lebih yang telah memberinya pendidikan. Sebab itulah beliau mendapatkan puncak kejayaan ilmu pengetahuan.
Guru adalah lebih mengetahui tentang apa yang kamu ketahui, dan tentang waktu membukakan persoalan itu. Apa yang belum masuk waktu membukakan persoalan pada setiap tingkat dari ketinggian tingkat itu adalah belum masuk waktu untuk bertanya tentangnya.
Seorang murid hendaknya selalu meminta keridhoan gurunya. Menjauhi kemurkaannya, melaksanakan perintah-perintahnya, kecuali perintah meksiat kepada Allah atau taat kepada makhluq dan maksiat kepada Tuhan. Termasuk memuliakan guru ialah menghormati dan memuliakan anak-anak serta family-familinya.






BAB III
KESIMPULAN
Pelajar, baik mahasiswa maupun santri, hendaklah menjaga sopan santun sebagai pelajar. Ethik pelajar yang harus dijaga sebagai mana telah diterangkan di ata, kiranya dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Jika menghadap guru maupun berkunjung haruslah dengan penuh hormat dan menghormati serta menyampaikan salam terlebih dahulu.
2. Jangan terlalu banyak bicara dikala sedang berada di hadapan guru, lebih-lebih pembicaraan yang tiada manfa’atnya.
3. Jangan mengajak bicara guru, kecuali kalau memang diajaknya.
4. Jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan sebelum terlebih dahulu meminta izin kepada sang guru, atau bahkan diberi kesempatan bertanya.
5. Jangan sekali-kali menyanggah ataupun menegur ucapan guru.
6. Jangan memberikan isyarah kepada guru, yang isyarah itu dapat menimbulkan khilaf dengan pendapatnya.
7. Jangan mengadakan permusyawarahan dengan teman ditempat duduk guru, atau berbicara dengan guru dengan tertawa.
8. Manakala duduk dihadapan guru hendaklah yang tenang, tawadhu’ sebagaimana sewaktu sedang melakukan shalat.
9. Jangan banyak bertanya sewaktu guru kelihatan kurang berkenan, atau kelihatan bosan.
10. Sewaktu guru hendak pergi, jangan sekali-kali dihentikan hanya untuk mengajukan pertanyaan.
11. Dikala guru berdiri hendak pergi, maka hendaklah berdiri pula untuk member penghormatan.
12. Jangan sekali-kali berprasangka buruk terhadap guru mengenai tindakannya yang kelihatan mungkar menurut pandangan murid.

0 komentar:

Posting Komentar

apakah anda puas dengan sistem pendidikan yang ada di universitas anda?

Powered By Blogger

Pengikut

About Me

Foto Saya
kependidikanislam2010
Lihat profil lengkapku