Jumat, 24 Juni 2011

Konsep Takdir Dalam Peningkatan Mutu SDM

BAB I
PENDAHULUAN

Takdir adalah suatu ketetapan akan garis kehidupan seseorang. Setiap orang lahir lengkap dengan skenario perjalanan kehidupannya dari awal dan akhir. Hal ini dinyatakan dalam Qur'an bahwa segala sesuatu yang terjadi terhadap diri seorang sudah tertulis dalam induk kitab.
Dengan memahami takdir sebagai ketetapan Allah yang bersifat azali, akan tetapi disisi lain juga mengakui adanya takdir pada saat manusia diciptakan di dalam kandungan (berkaitan dengan umur, rizki, ajal, bahagia, susah bagi manusia).
Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu, sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinilainya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengrtian Takdir
Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara yang berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika kita berkata, "Allah telah menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya."
Penjelasan qodar (ketentuan) terdapat di dalam Al Qur’an dengan berulang-ulang.
Terdapat beberapa firman Allah yang menjelaskan qodar, antara lain :
• QS. AR RA’D : 8 Allah berfirman :

Artinya : “segala sesuatu di sisi-Nya mempunyai qadar (ketentuan)”.
• QS. AL HIJR : 21 Allah berfirman :


Artinya : “tak satupun yang ada kecuali di sisi-Nya terdapat perbendaharaan. Kami tidak menurunkan kecuali dengan qadar yang ditentukan”.
• QS. AL QAMAR : 49 Allah berfirman :

Artinya : “sesungguhnya Kami jadikan segala sesuatu dengan qadar yang ditentukan”.
Dalam ayat tersebut di atas dimaksudkan bahwa qodar adalah tata aturan yang kokoh yang ditetapkan Allah untuk makhluk, undang-undang umum, dan hukum-hukum (sunah) yang berhubungan dengan sebab dan musababnya.
Dari sekian banyak ayat Al-Quran dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. Menuntun dan menunjukkan mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Begitu dipahami antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat Al-A'la :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى () الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى () وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى ()
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan (semua mahluk) dan menyempurnakannya, yang memberi takdir kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3).

Beriman kepada qodar merupakan salah satu dari sendi agama yang wajib, tidaklah sempurna iman tanpa iman pada qodar. Karena tanpa kita beriman kepada qodar berarti kita tidak mengakui kesempurnaan ilmu Allah dan iradat-Nya.
Dengan kata lain, mustahil iradat Allah melekat pada sesuatu tanpa melalui saluran sebab dan lantarannya mengingat yang sedemikian itu berlawanan dengan keesaan dan keagungan Zat-Nya yang suci. Jadi, ilmu dan iradat Allah melekat pada perbuatan manusia, juga pada kebahagiaan dan kesengsaraannya (hanya) melalui lantaran dan sebabnya yang khusus berkaitan dengannya. Qodho dan qodar lah yang menjadikan manusia terlepas bebas kedua tangannya; ia dapat memilih, merdeka, dan berpengaruh atas nasib dirinya.

Hikmah beriman pada qodar yakni sebagai kekuatan dan kemampuan manusia akan berjalan agar dapat mengetahui hukum-hukum (sunah), menangkap undang-undang, dan mengerjakan sesuatu berdasar ketentuan dalam rangka membangun, meramaikan, mengeluarkan perbendaharaan (kekayaan) bumi, dan memanfaatkan kebaikan yang tersimpan di alam ini. Selain itu juga sebagai daya pembangkit terhadap sikap berani, berbuat, dan berpandangan positif dalam kehidupan.

B. Konsep Takdir
Islam mengenal takdir dengan sebutan qadha dan qadar. Sebagian ulama menafsirkan qadha sebagai hubungan sebab akibat dan qadar sebagai ketentuan Allah sejak zaman ajali. Jadi secara singkat qadha adalah pelaksanaan dalam tataran operasional yang dipilih oleh manusia untuk selanjutnya menemui qadarnya dan akhirnya menentukan nilai dari amal perbuatannya.
Takdir adalah suatu yang sangat ghoib, sehingga kita tak mampu mengetahui takdir kita sedikitpun. Yang dapat kita lakukan hanya berusaha, dan berusahapun telah Allah dijadikan sebagai kewajiban. ”Tugas kita hanyalah senantiasa berusaha, biar hasil Allah yang menentukan”, itulah kalimat yang sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, yang menegaskan pentingnya mengusahakan qadha untuk selanjutnya menemui qadarnya. Dan ada 3 hal yang sering-sering disebut sebagai takdir, yaitu jodoh, rizky, dan kematian.

C. Perbandingan Antara Golongan Mengenai Pengertian Takdir
 Golongan Jabariyah
Mereka yang mengatakan bahwa takdir adalah keputusan Allah dimana baik dan buruk nasib seseorang di tentukan sepenuhnya oleh Allah tanpa manusia bisa berupaya dan mengganti keadaan tersebut. Sebagian pengikut jabariyah beranggapan telah bersatu dengan tuhan. Manusia itu sama sekali tidak mempunyai ikhtiar apa-apa, tuhanlah yang aktif. Aliran ini menempatkan manusia dalam keadaan benar-benar pasif.
 Golongan Qodariyah
Mereka mengatakan bahwa nasib atau takdir seseorang di tentukan oleh seberapa besar usaha orang tersebut tanpa ada intervensi dan keikutsertaan Allah terhadap perjalanan hidup seseorang hamba, Walaupun faham qodariyah masih mempercayai adanya maha pencipta, tetapi menganggap tuhan dalam keadaan pasif, manusia lah yang aktif dalam berkeinginan dan berikhtiar.
 Golongan Ahlus Sunnah Waljamaah
Golongan ini mengatakan bahwa Allah telah menetapkan nasib dan takdir seseorang, namun manusia tetap dituntut untuk berupaya semaksimal mungkin untuk berubah dan kondisinya, dan perubahan itu bisa diupayakan atas kuasa ilahi dan ridho dari-Nya meskipun nasib dan suratan takdir telah tertulis.
Dari ketiga golongan tersebut bisa kita ambil konklusinya bahwa manusia tetap dituntut untuk berupaya seoptimal mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik, baik di dunia maupun di akhirat dengan seimbang tanpa melupakan sisi pasrah dan tawakal manusia terhadap tuhan. Namun perlu digaris bawahi bahwa pasrah disini bukan berarti bersikap fatalis yang hanya menunggu perubahan dari Allah atau bertindak sesuatu yang irasional. Semua sangat tergantung dari optimalisasi usaha manusia dan keridhaan ilahi. Seperti dalam firman Allah : Yang Artinya : Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya (Qs Ar-Ra’).
D. Konsep Takdir Dalam Meningkatkan SDM,

Konsep takdir dalam hal ini dapat di lakukan dengan cara ikhtiar di dunia, manusia diwajibkan berikhtiar dan berusaha untuk mencapai segala sesuatu yang dicita-citakan demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Meskipun kita telah beriman dan mempercayai benar-benar bahwa semua ketentuan datangnya dari Allah SWT, agar lepas dari ketentuan jelek dan buruk, serta berjuang hanya mendapatkan ketentuan baik saja.
Dengan kepercayaan yang kuat akan kebenaran qodho dan qodar Allah mendorong manusia yang beriman untuk menguatkan pijakannya pada jalan kebenaran dan keadilan, mencurahkan segala daya upayanya, dan meyakini datangnya hasil yang diharapkan.

Dengan demikian, setiap mukmin wajib bekerja keras agar tidak jatuh miskin, giat belajar, agar berilmu dan bermanfaat bagi masyarakat, memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebab kita tidak mengetahui takdir yang mana yang kita perlukan, sehingga setiap mukmin tidak di benarkan berdiam diri dan pasrah kepada takdir Allah, tetapi harus berjuang mencari kemaslahatan dunia dan akhirat, serta berusaha menghindari perbuatan mungkar dan maksiat.
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu mengubah keadaan dirinya” Jadi, sudah jelas bahwa kita menginginkan sesuatu hendaknya kita berikhtiar, karena melihat firman diatas bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan dirinya dengan cara berikhtiar kepada Allah SWT, dan mengoptimalkan usaha kita dan keridhaan ilahi.

E. Pengaruh Takdir Dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia
Beberapa pengaruh takdir dalam meningkatkan mutu SDM, antara lain;
1) Takdir merupakan salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi bersemangat dalam beramal dan berusaha untuk mencapai keridhaan Allah dalam hidup ini.
2) Manusia akan mengetahui kemampuan dirinya sehingga ia tidak sombong, bangga atau tinggi hati.
3) Bisa menumbuhkan keberanian hati untuk menghadapi berbagai tantangan serta menguatkan keinginan di dalamnya.
4) Sikap tawakkal dan menyandarkan diri kepada Allah, dalam arti manusia tidak boleh lemah, mudah terguncang, dan tidak boleh malas dalam menghadapi tekadnya.



















BAB III
KESIMPULAN

Takdir adalah pengetahuan abadi kepunyaan Allah, Allah lah yang memahami waktu sebagai kejadian tunggal dan Allah lah yang meliputi keseluruhan ruang dan waktu. Bagi Allah, segalanya telah ditentukan dan sudah selesai dalam sebuah takdir.
Berdasarkan hal-hal yang diungkapkan dalam Al Quran, kita juga dapat memahami bahwa waktu bersifat tunggal bagi Allah.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam."
Manusia mempunyai kemampuan terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya, tidak dapat terbang. Ini merupakan salah satu ukuran atau batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Oleh sebab itu, sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

apakah anda puas dengan sistem pendidikan yang ada di universitas anda?

Pengikut

About Me

Foto Saya
kependidikanislam2010
Lihat profil lengkapku