Rabu, 22 Juni 2011

TAUHID,,, ISLAM IHSAN DAN IMAN

A. Pengrtian Iman, Islam dan Ihsan
1. Pengertian Iman
Dari pengertian lughat, kata iman berarti pembenaran (tashdiiq). Inilah makna yang dimaksud dengan kata mukmin dalam firman Allah, surat Yusuf:17:
قَالُوا يَآأَبَانَآ إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَآأَنتَ بِمُؤْمِنٍ لَّنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ {17}
17. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar."
Dalam ayat di atas, makna mukmin adalah mushaddiq yakni orang yang membenarkan . Adapun makna iman dari segi istilah adalah pembenaran atau pengakuan hati dengan penuh yakin tanpa ragu-ragu akan segala apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yang diketahui dengan jelas sebagai ajaran agama yang berasal dari wahyu Allah.
Pengertian “iman” yang demikian ini telah diterima oleh seluruh ulama Islam, baik ulama salaf maupun ulama khalaf. Jika seseorang membenarkan dengan hati dengan penuh yakin akan agama Islam, maka ia adalah orang mukmin. Demikian kata Imam Nawawi. Orang tersebut tidak wajib mempelajari dalil-dalil untuk mengukuhkan iman atau makrifatnya kepada adanya Allah. Jadi, orang awam (muqallid) juga termasuk ke dalam golongan mukmin.
Pembenaran dan pengakuan itu tempatnya di dalam hati, yakni setelah adanya makrifah atau ilmu. Iman dalam arti yang demikian sama artinya dengan I’tikad. Yakni mengikat hati dalam bentuk kepercayaan kepada sesuatu yang telah diketahui wujud kebenarannya. Kaitan atau gantungan iman atau I’tikad itu disebut akidah. Mengakui adanya Allah disebut iman atau I’tikad sedangkan adanya Allah disebut akidah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa akidah adalah wujud Allah dan sifat-sifat-Nya serta rukun-rukun iman lainnya yang wajib dii’tikadkan dengan hati yang penuh yakin.
Iman mengandung arti ketentraman dan kedamaian kalbu yang dari kata itu pila muncul kata al-amanah (amanah: bisa dipercaya), lawan dari al-khiyanah (keingkaran). Seseorang dikatakan al-amin manakala, hati ini tentram karena perilakunya yang baik dan tidak khawatir bahwa orang itu akan berlaku khiyanat. Yang dimaksud keimanan seseorang terhadap sesuatu adalah bahwa dalam hati orang tersebut telah tertanam kepercayaan dan keyakinan tentang sesuatu itu dan sejak saat itu ia tidak khawatir lagi terhadap menyelusupnya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaan.
2. Pengertian Islam
Dari segi lughat, kata islam mempunyai arti menyerah diri, tunduk serta patuh kepada sesuatu, baik yang nyata (hissi) maupun yang tidak nyata (maknawi). Inilah makna yang dimaksud dari kata aslama yang terdapat dalam firman Allah, dalam surat Ali Imran ayat 83:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُون {83}َ
83. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.
Adapun dari segi istilah, kata islam adalah menyerah diri dan patuh sepenuhnya kepada Allah dengan hati yang ridha dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam pengertian ini, semua nabi dan rasul adalah orang-orang Islam (muslim) karena mereka semua patuh dan tunduk serta menyerah diri kepada Allah, lahir dan batin.
Agama islam terdiri dari dua bagian, yaitu akidah dan syariah. Terkadang akidah disebut iman dan syariah disebut islam. Akidah adalah suatu istilah yang dikenal luas dalam kalangan ulama kalm dan ia tidak disebut dalam al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan iman istilah agama yang banyak sekali disebut dalam al-Qur’an dan Hadis. Akidah atau iman adalah asas atau dasar agama sedangkan syariah adalah cabangnya. Akidah terletak dalam hati dan syariah adalah amalan atau kerja anggota badan.
Alam semesta dan segala isinya serta semua hukum yang ada di dalamnya adalah Islam, dalam arti tunduk , patuh, pasrah kepada Allah pencipta alam itu. Pasrah, tunduk kepada Allah dalam artian tunduk kepada hukum-hukum yang telah ditentukan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
َفَغَيْرَ دِينِ اللهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُون {83}
83. Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.(Q.S. Ali Imran:83)
Menurut ayat ini, tidak ada sesuatu pun yang tidak patuh dan tunduk dengan hukum Islam. Seluruh ciptaan Allah dalam keadaan Islam. Wujud mereka takluk dan tunduk pada hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah. Mereka semua bertasbih, bertahhmid dan sujud kepada-Nya. Tidak sebutir atom pun yang dapat lepas berdiri sendiri dengan hukum lain. Termasuk juga manusia, seluruh jasad badaniyahnya adalah Islam kepada sunnatullah. Baik Islam secara terpaksa maupun sukarela. Yang menyerah dan menerima hukum Allah dengan sukarela ikhlas disebut mukmin atau muslim. Sedangkan bagi manusia yang tunduk, takluk dengan terpaksa kepada sunnatullah tersebut dikatakan orang kafir.
Oleh karena itu, sebagai manusia, adalah lebih baik menerima hukum Allah dengan suka hati daripada menerima dengan terpaksa. Tidak ada artinya sedikit pun penentangan kita terhadap hukum Allah, menolak atau menerima hukum tersebut sama saja, ia tetap berlaku pada dirinya.
3. Pengertian Ihsan
Ihsan yaitu hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia. Jika kamu tidak melihatNya, maka (wajib yakin) bahwa sesuungguhnya Dia Maha Melihat kamu. Keterangan Rasulullah mengenai ihsan sebenarnya termasuk jawaami’ al kalim (kalimat singkat tapi penuh makna) yang telah diberikan Allah kepada beliau. Penjelasan ihsan yang dimaksud oleh Rasulullah adalah bagaimana kalau salah seorang dari kita mengajarkan ibadah sambil menyaksikan Allah secara langsung. Bukankah dia akan berusaha khusyu’ dan merendahkan diri. Dia akan memadukan antara konsentrasi lahir dan bathin. Dalam keterangan ini, dengan kata lain Rasulullah bersabda, “Sembahlah Allah dalam setiap kondisimu seakan-akan kamu menyaksikan-Nya secara langsung.” Memang kesempurnaan ibadah hanya bias dicapai ketika seorang senantiasa merasa diawasi oleh Sang Maha Pencipta. Itulah mengapa mengapa seorang hamba tidak boleh lalai ketika menjalankan ibadah.
Kesimpulan dari keterangan di atas adalah anjuran untuk ikhlas ketika mengerjakan ibadah sekaligus anjuran agar seorang hamba senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan penuh khusyu’ dan rendah hati. Itulah mengapa beberapa ulama’ ada yang menganjurkan agar seseorang sering duduk bersama dengan orang-orang yang shalih. Mungkin pada tahap awal, melalui rasa malu pada orang-orang shalih tersebut, seseorang akan merasa malu untuk mempraktekan beberapa hal yang bias mengurangi nilai ibadahnya. Sehingga lama kelamaan dia akan bias berfikir, bagaimana kalau yang memperhatikan aktifitas ibadahnya adalah Allah Dzat Yang mampu mengetahui dan mengawasi kondisi lahir dan bathinnya.
Firman Allah tentang ihsan yaitu Q.S.An-Nahl:128,
إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ {128}

128. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
Berdasar dalil di atas, maka dapat disimpulkan bahwa martabat ihsan itu ada dua, yaitu taqwa dan ikhlas.
Taqwa yaitu mengerjakan segala perintah Allah serta menjauhi semua larangan-Nya. Sedangkan ikhlas artinya kita melakukan segala ibadah itu semata-mata karena iman kepada Allah dank arena mengharapkan ridha-Nya.
Setelah kita percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab, utusan, hari kiamat dan qadha’ qadar-Nya (Rukun Iman) , berarti kita sudah mengenal siapa Allah secara yakin. Kemudian, kita mengerti pula tentang kewajiban apa yang mesti kita lakukan, meliputi shalat, puasa, zakat, dan haji yang tercakup dalam rukun islam. Hal itu belum sempurna jika dalam pelaksanaannya kita belum ikhlas, sebagaimana pohon tak berbuah.
Maka ibadah yang dipandang sah oleh Allah adalah yang ikhlas. Dan iman maupun islam yang diterima oleh Allah adalah yang ikhlas, tidak dicampuri oleh kemusyrikan-kemusyikan, atau dicemari oleh suatu tujuan selain untuk Allah Swt. Sesungguhnya ikhlas itulah roh (jiwa) suatu ibadah dan segala macam atau bentuk semua amalan.dan ibadah yang ikhlas itulah yang dinamakan ihsan.
B. Hubungan antara Iman, Islam dan Ihsan
Hubungan iman dengan islam adalah erat sekali, tidak dapat dipisahkan. Namun, masing-masing memiliki makna yang berbeda-beda seperti firman Allah Q.S. al- Hujurat:14
قَالَتِ اْلأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ لاَيَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ {14}

14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Dalam ayat di atas, yang dimaksud dengan iman adalah pengakuan dan pembenaran dengan hati ajaran iman, sedangkan yang dimaksud dengan islam adalah amalan lahiriyah yang dilakukan dengan anggota badan akan ajaran islam seperti shalat.
Pada hakikatnya, iman dan islam saling memerlukan. Artinya iman itu diperlukan oleh manusia supaya Allah dapat menerima islam-nya. Setiap amalan baik tidak akan diterima oleh Allah tanpa didasari pada iman. Shalat-nya orang munafik, misalnya, tidak aka nada faedahnya karena Allah tidak akan menerimanya, sebab dilakukannya karena karena sebab selain Allah. Dalam pergaulan hidup sesama manusia, iman itu tidak lazim dinyatakan karena apa yang ada di dalam hati hanya Allah yang mengetahui, sedangkan manusia hanya mengetahui amalan lahir saja sebagai buktibahwa dia orang mukmin. Islam perlu bagi seseorang sebagai bukti bahwa ia orang mukmin dalam pergaulan hidup sesame insane dan sekurang-kurangnya pengakuan dengan lisan, walaupun ia tidak lazim sebagai dalil orang mukmin di sisi Allah. Sebab, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatinya. Di sisi Allah, pernyataan dengan lisan saja tidak bermanfaat selagi tidak ada pembenaran dalam hati.
Dalam hadis , Rasulullah menjawab dari pertanyaan Jibril,
1. Islam adalah kamu menyembah Tuhan dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, kamu melaksanakan shalat, membayar zakat, dan melaksanakan puasa Ramadhan.
2. Kepercayaan iman ialah kamu percaya kepada Tuhan, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Utusan-Nya dan hari kebangkitan.
3. Kesempurnaan ihsan yakni menjadi muslim yang sempurna adalah kamu menyembah Tuhan seakan-akan kamu melihatNya, apabila kamu tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.
Menurut Ibn Taimiyyah, ketiga konsep tersebut, membentuk tiga tingkatan secara berurutan menurut konsep agama sebagaimana yang dipahami menurut pengertian islam. Tingkatan yang paling tinggi ialah ihsan, tingkatan pertengahan adalah iman, diikuti oleh islam. Dengan demikian setiap muhsin adalah mukmin, dan setiap mukmin adalah muslim, tetapi tidak setiap mukmin adalah muhsin, dan tidak setiap muslim adalah mukmin. Ihsan memiliki makna yang luas, karena makna ihsan di dalamnya meliputi semua karakteristik atau sifat-sifat baik iman maupun islam. Sesungguhnya ihsan merupakan penyempurna dari iman dan islam.
Pada hakikatnya, pangkal keimanan adalah tashdiiq (pembenaran dalam hati bahwa Allah itu Esa), sedangkan pangkal islam ialah berserah diri dan ketundukan kepada Allah. Terkadang seseorang secara lahiriyah Nampak bersih diri, namun bathinnya tidak memiliki rasa tunduk sedikitpun. Begitu juga sebaliknya, ada seseorang yang bathinnya telah melakukan tashdiiq namun fisik lahiriyahnya tidak mencerminkan sikap ketundukannya.
Jelasnya, keimanan dan keislaman itu tidak boleh dipisah-pisahkan satu dengan lainnya, erat hubungan dan senantiasa saling mengisi.
Jika kita misalkan iman sebagai akarnya, dan islam sebagai batang pohonnya, sedangkan ihsan adalah buahnya. Tidak cukup kita hanya percaya saja kalau tidak melaksanakan perintah-Nya, sebagaimana percuma kita melaksanakan perintah jika tidak percaya dan tidak mengerti kepada siapa harus kita tujukan. Jadi orang-orang taqwa adalah orang yng melaksanakan islam berdasarkan iman, atau orang-orang yang beriman kemudian melakukan islamnya.


















BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:
• Islam adalah tunduk dan patuh lahir bathin, kepada apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. dari Allah Swt.
• Iman adalah mempercayai dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota segala apa yang dibawa Nabi Muhammad Saw. dari Allah Swt.
• Ihsan adalah hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.
Iman, islam dan ihsan saling berhubungan satu sama lain. Ibarat iman sebagai akar, islam sebagai batang pohon, sedangkan ihsan adalah buahnya.

0 komentar:

Posting Komentar

apakah anda puas dengan sistem pendidikan yang ada di universitas anda?

Powered By Blogger

Pengikut

About Me

Foto Saya
kependidikanislam2010
Lihat profil lengkapku